Minggu, 24 November 2019

Widal

Widal atau uji Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi bakteriSalmonella enterica yang mengakibatkan penyakit Thipoid. Uji ini akan memperlihatkan reaksi antibodiSalmonella terhadap antigen O-somatik dan H-flagellar di dalam darah.


  • Prinsip 

Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar anti dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.
Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis Demam tifoid.[1]
Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut:
  • Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100 °C selama 2–5 jam, alkohol dan asam yang encer.
  • Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60 °C dan pada pemberian alkohol atau asam.
  • Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60 °C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier.
  • Outer Membrane Protein (OMP)

Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–100 °C. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa peneliti menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik yaitu antigen protein 50 kDa/52 kDa.


Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial di antara para ahli. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam typhoid. Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan untuk menelan S.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka ambang atas titer rujukan, baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan.
Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.
Titer widal biasanya angka kelipatan: 1/32, 1/64, 1/160, 1/320, 1/640.

  • Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu): dinyatakan (+).
  • Titer 1/160: masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
  • Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada pasiendengan gejala klinis khas.

Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial di antara para ahli. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam typhoid. Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan untuk menelan S.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka ambang atas titer rujukan, baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan.
Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.



Jumlah trombosit normal pada darah adalah sebanyak 150.000 – 450.000 sel per mikroliter darah. Jika jumlah trombosit kurang dari 150.000, maka seseorang dapat dianggap menderita trombositopenia. Seseorang yang menderita trombositopenia rentan mengalami perdarahan, misalnya mudah lebam, mimisan, atau gusi sering berdarah.
alodokter-trombositopenia
Trombositopenia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti demam berdarah, ITP, anemia aplastik, dan leukemia; atau akibat efek samping radioterapi dan kemoterapi. Bila jumlah trombosit turun tidak terlalu rendah atau masih di atas 50.000, umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus untuk menaikkan jumlah trombosit.

Gejala Trombositopenia

Trombositopenia ringan umumnya tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat penderita melakukan pemeriksaan jumlah sel darah untuk tujuan lain.
Jika jumlah trombosit semakin turun, penderita akan merasakan gejala utama berupa perdarahan, baik yang terlihat dari luar maupun perdarahan organ dalam. Perdarahan organ dalam lebih sulit dideteksi dan gejalanya bervariasi, tergantung pada organ yang mengalami perdarahan.
Sedangkan perdarahan di tubuh bagian luar nampak sebagai memar atau lebam, dan perdarahan yang sulit berhenti. Gejala perdarahan lain yang dapat muncul akibat trombositopenia adalah:
  • Mimisan
  • Gusi berdarah
  • Menstruasi yang lebih banyak dari biasanya
  • Hematuria
  • BAB berdarah atau berwarna hitam
  • Muntah darah atau berwarna seperti kopi

Kapan harus ke dokter

Segera hubungi dokter jika mengalami perdarahan tanpa didahului oleh cedera, apalagi perdarahan tersebut tidak mau berhenti. Perdarahan yang tidak mau berhenti dapat menimbulkan syok yang berakibat fatal. Waspadalah bila timbul gejala syok, seperti pandangan gelap, jantung berdebar, dan keringat dingin.
Jika menderita penyakit kronis yang menyebabkan jumlah trombosit turun, seperti ITP atau anemia aplastik, lakukan kontrol secara rutin ke dokter. Penderita trombositopenia perlu waspada bila merasakan sakit kepala hebat atau gangguan saraf, karena bisa jadi gejala tersebut menandakan adanya perdarahan pada otak.

Penyebab Trombosit Turun

Trombositopenia dapat terjadi sementara maupun berkepanjangan. Tidak ada batasan waktu yang pasti mengenai keduanya, namun yang jelas, berhubungan dengan penyebabnya.
Berikut ini akan dijabarkan mengenai penyebab trombosit turun hanya sementara (akut) dan penyebab trombosit turun secara berkepanjangan (kronis):

Penyebab trombosit turun sementara

Penyebab trombositopenia akut bermacam-macam, tapi yang paling umum diketahui adalah demam berdarah dengue (DBD). Tidak hanya DBD, infeksi virus lain, seperti HIV atau hepatitis, juga mengakibatkan trombosit turun. Selain infeksi virus, penyebab lain dari trombosit turun sementara adalah:

Penyebab trombosit turun berkepanjangan

Trombositopenia kronis umumnya disebabkan oleh idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP). ITP diduga terjadi akibat sistem kekebalan tubuh keliru menyerang dan menghancurkan trombosit, sehingga jumlahnya berkurang.
Selain ITP, trombositopenia yang berkepanjangan (kronis) juga dapat disebabkan oleh:

Diagnosis Trombositopenia

Pada tahap awal pemeriksaan, dokter akan bertanya seputar gejala yang dialami pasien dan riwayat kesehatannya. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adanya memar atau bintik-bintik merah pada kulit, yang merupakan salah satu gejala trombositopenia.
Jika pasien diduga mengalami trombositopenia, dokter akan melakukan tes darah. Tes darah yang dilakukan adalah hitung darah lengkap dan pemeriksaan apusan darah tepi. Lewat kedua pemeriksaan ini, dokter akan mengetahui jumlah trombosit di dalam darah, serta struktur dan kondisi sel darah di bawah mikroskop.
Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk mendeteksi penyebab trombositopenia, misalnya uji fungsi hatiuntuk melihat penyakit liver. Selain tes darah, dokter juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, seperti:
  • USG perut
    USG perut dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi pembesaran pada organ hati maupun limpa.
  • Aspirasi sumsum tulangPemeriksaan aspirasi sumsum tulangdilakukan untuk melihat jumlah serta struktur sel darah langsung dari pabriknya, yaitu sumsum tulang. Pemeriksaan ini juga melihat kondisi sumsum tulang, dengan mengambil sedikit sampel jaringan (biopsi sumsum tulang).

Cara Menaikkan Jumlah Trombosit

Tidak semua penurunan jumlah trombosit perlu diobati. Sebelum merencanakan pengobatan trombositopenia, dokter perlu mencari dulu penyebabnya dan mengetahui berapa jumlah trombosit dalam darah. Kedua hal ini menentukan keparahan trombositopenia yang dialami oleh penderita.
Trombositopenia ringan (jumlah trombosit masih di atas 50.000 sel per mikroliter darah) cenderung tidak menimbulkan gejala. Tidak ada pengobatan khusus untuk menaikkan jumlah trombosit.
Dokter hanya akan memberikan pengobatan untuk mengatasi penyebab turunnya jumlah trombosit dan untuk mencegah agar jumlahnya tidak semakin turun. Bila penyebab trombosit turun merupakan penyakit yang berkepanjangan (kronis), penderita perlu menjalani kontrol rutin dengan dokter untuk memantau perjalanan penyakit.
Untuk mencegah perdarahan, dokter akan menyarankan penderita untuk:
  • Menghindari aktivitas yang berisiko menimbulkan cedera, seperti olahraga sepak bola.
  • Berhati-hati saat mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, dan menggunakan obat sesuai aturan pakai.
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
Pengobatan untuk trombositopenia berbeda-beda tergantung penyebab, jumlah trombosit, dan akut atau kronisnya penyakit. Berikut penjelasannya:
  • Jika tombositopenia disebabkan oleh efek samping obat, maka bila perlu dokter akan mengganti atau menghentikan penggunaan obat tersebut.
  • Jika trombositopenia disebabkan oleh infeksi virus, dokter akan memberikan obat antivirus bila diperlukan. Beberapa infeksi virus, seperti demam berdarah, tidak memerlukan obat antivirus, melainkan hanya memerlukan asupan cairan yang cukup.
  • Jika trombositopenia disebabkan oleh kecanduan alkohol jangka panjang, dokter akan meminta penderita untuk berhenti minum alkohol.
  • Jika trombositopenia disebabkan oleh penyakit autoimun, misalnya ITP, pengobatannya adalah dengan pemberian kortikosteroid.
Perdarahan yang serius, seperti perdarahan otak, berisiko terjadi pada jumlah trombosit kurang dari 10.000-20.000 sel per mikroliter darah. Oleh karena itu, bila trombosit terlalu rendah atau pengobatan untuk mengatasi penyebab tidak memberikan hasil yang memuaskan, dokter akan meningkatkan jumlah trombosit dengan beberapa cara di bawah ini:
  • Transfusi trombosit
  • Obat eltrombopag
  • Tindakan plasmaferesis
  • Operasi pengangkatan organ limpa

Komplikasi Trombositopenia

Komplikasi yang dapat terjadi akibat trombositopenia adalah perdarahan berat pada otak atau saluran pencernaan. Perdarahan pada otak dan saluran pencernaan merupakan kondisi yang harus segera ditangani. Jika muncul gejala berupa sakit kepala hebat atau BAB berdarah, segera hubungi dokter.

Pencegahan Trombositopenia

Langkah pencegahan utama trombositopenia adalah dengan menghindari penyebab turunnya trombosit. Hal yang dapat dilakukan adalah:
  • Menghindari minum minuman beralkohol.
  • Mendapatkan vaksinasi untuk mencegah beberapa infeksi virus yang dapat menurunkan jumlah trombosit, misalnya cacar air dan rubella.
  • Mengikuti program pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah demam berdarah.
Selain mencegah penyebabnya, penderita trombositopenia perlu mencegah perdarahan akibat trombositopenia, antara lain dengan menggunakan sikat gigi yang lembut agar gusi tidak berdarah dan menghindari  aktivitas yang bisa menimbulkan cedera, misalnya bermain sepak bola.
Prinsip reaksi antigen dan atibodi adalah
1. Antigen dalam tubuh dapat dikenali sebagai benda asing dan bersifat merangsang sistem
imun.
2. Antibodi hanya dapat bereaksi dengan antigen yang merangsang pembentukannya,karena
antibodi mempunyai reseptor antigen
3. Sifat spesifik dari antibodi ditentukan oleh bentuk reseptor antigen yang ditentukan oleh
rangkaian asam amino dari molekul antibodi
4. Manifestasi dari reaksi spesifik ini tampak dalam dalam bentuk presipitasi aglutinasi atau
ikatan komplemen
Gambar interaksi antigen-antibodi
REAKSI PRESIPITASI
Pada permukaan antibodi minimal didapatkan 2 reseptor antigen,sedangkan pada permukaan
antigen didapatkan banyak epitop. Ikatan antigen-antibodi ini akan menimbulkan reaksi presipitasi
jika perbandingan antigen dan antibodi optimal. Bila jumlah antigen lebih banyak,maka presipitat
akan larut kembali (post zona effect). Sedangkan bila antibodi berlebihan menyebabkan kompleks
antigen-antibodi tetap dalam bentuk larutan ( pro zona effect )
REAKSI AGLUTINASI
Mekanisme terjadinya aglutinasi tidak berbeda dengan mekanisme presipitasi. Pada reaksi ini
antibodinya bersifat multivalent,artinya tiap antibodi didapatkan paling sedikit 2 reseptor.
Macam-Macam reaksi aglutinasi
1. Direk : untuk menetapkan antibodi terhadap antigen yang berupa partikel/sel.
Contoh : Pemeriksaan golongan darah,pemeriksaan widal,tes Rf,tes kehamilan,tes sifiis

Pembacaan Hasil
A. Jika Aglutinin a (serum alfa) + Aglutinogen A = terjadi aglutinasi (penggumpalan)
B. Jika Aglutinin b (serum beta ) + Aglutinogen B = terjadi aglutinasi (penggumpalan)
C. Jika Anti-Rhesus (antibodi rhesus) + antigen Rhesus + terjadi aglutinasi ( penggumpalan)
D. darah + anti rhesus = terdapat antigen rhesus gol Rh+
E. darah + serum alfa = aglutinasi terdapat aglutinogen A = Gol A
F. darah + serum beta = aglutinasi terdapat aglutinogen B = Gol A
2. Indirek : untuk menetapkan antibodi terhadap antigen yang larut dengan melekatkan
terlebih dahulu antigen dengan partikel (carrier) seperti: latex,eritrosit,karbon.
3. Hambatan aglutinasi : merupakan modifikasi teknik aglutinasi untuk antigen larut
ANTIGEN
Antigen adalah bahan yang dapat bereaksi dengan produk respons imun dan merupakan sasaran respons imun. Antigen disebut juga imunogen yaitu bahan yang dapat menimbulkan respons imun. Epitop atau determinan antigen adalah bagian antigen yang menginduksi pembentukan antibodi dan dapat diikat dengan spesifik oleh bagian antibodi pada limfosit. Hapten adalah determinan antigen dengan berat molekul rendah dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar dan dapat mengikat antibodi 
1. Pembagian antigen menurut epitop

  1. Unideterminan,univalen : Hanya 1 jenis epitop pada 1 molekul
  2. Unideterminan,multivalen : Hanya 1 determinan tetapi 2 atau lebih determinan ditemukan dalam 1 molekul 
  3. Multideterminan,univalen : Banyak epitop yang bermacam-macam tapi hanya 1 dari tiap macamnya
  4. Multideterminan,multivalen : Banyak determinan dan banyak macam pada 1 molekul 
2. Pembagian antigen menurut spesivitas :

  1. Heteroantigen,yang dimiliki oleh banyak spesies
  2. Xenoantigen,yang hanya dimiliki spesies tertenti
  3. Alloantigen,yang spesifik untuk individu dalam suatu spesies
  4. Antigen organ spesifik,yang hanya dimiliki organ tertentu
Autoantigen,yang dimiliki alat tubuh sendiri
Gambar Energi Menurut Epitop
3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T

Widal

Widal  atau  uji Widal  adalah prosedur uji  serologi  untuk mendeteksi  bakteri Salmonella enterica  yang mengakibatkan penyakit  Thipoid ....